Nu’aiman ‘Menjual’ Temannya Sendiri

p_20161124_225218_nt_1

Di zaman Nabi, ada seorang sahabat yang dikenal usil dan suka bercanda. Dia adalah Nu’aiman yang termasuk asalah seorang ashabul Badr (sahabat yang ikut perang Badar).

ornate-letter-tabiat Nu’aiman yang humoris ini sering membuat orang gemas, jengkel dan tertawa. Tak terkecuali bagi Nabi sendiri. Nu’aiman pernah membuat Rasulullah saw. tersenyum saat dia menghadiahi beliau seguci madu. Waktu membeli madu, Nu’aiman berkata kepada si penjual madu, “Tolong antarkan madu ini kepada Rasulullah. Nanti sekalian kamu minta juga harganya”.

Begitu mendapat hadiah madu berikut tagihan harganya, Nabi langsung tahu siapa si pemberi ‘hadiah’ tersebut. “Ini pasti ulah Nu’aiman lagi!” ujar Nabi. Si Nu’aiman pun lantas dipanggil dan ditanya oleh Nabi, “Mengapa kamu lakukan ini?”.
“Saya ingin berbuat baik kepada Anda ya Rasulullah. Tapi saya tidak mempunyai apa-apa.” Nabi pun tersenyum dan membayar harga madu itu kepada penjualnya.

Di lain hari, setahun sebelum Rasulullah wafat, Nu’aiman ikut rombongan Abu Bakar ra. menuju Bushra (kota lama Syiria) untuk berdagang. Turut dalam rombongan ini Suwaibith bin Harmalah, seorang yang dikenal suka membawa bekal makanan.

Di tengah jalan, rombongan pedagang ini beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Mereka memilih sebuah tempat teduh sebagai tempat peristirahatan. Tapi saat rombongan menurunkan barang dagangan dari punggung-punggung unta, Abu Bakar ra. belum terlihat. Rupanya dia tertinggal di belakang.

Dengan perut keroncongan, Nu’aiman mendekati Suwaibith dan meminta sedikit makanan. Tapi pemilik makanan ini enggan memberinya makanan karena Abu Bakar belum tiba di tempat peristirahatan. “Nanti, setelah Abu Bakar sampai,” jawab Suwaibith.

Penolakan ini membuat Nu’aiman jengkel karena saat itu perutnya sudah harus di isi sesuatu. Dia bertekad membalas perlakuan Suwaibith atas dirinya. “Aku akan membuatmu benar-benar marah,” gumam Nu’aiman dengan nada kesal.

Ancaman Nu’aiman itu ternyata bukan pepesan kosong. Saat rombongan melewati sebuah dusun, Nu’aiman sengaja menghampiri beberapa orang penduduk di pinggir jalan.

“(Mantan) majikanmu telah mengabari kami tentang kebiasaanmu ini. Termasuk adatmu yang banyak bicara,” ujar orang-orang dusun sambil terus membawa pergi Suwaibith tanpa mempedulikan ucapannya.”

“Kalian mau membeli budak? Saya mempunyai seorang budak yang sehat dan rajin. Lihat saja disana!” ujarnya sambil menunjuk ke arah Suwaibith di kejauhan sana. Melihat perawakan Suwaibith yang gagah, orang-orang dusun itu tertarik.

“Ya, ” jawab mereka.
“Tapi dia budak yang banyak tingkah dan pandai bicara. Dia akan berkata kepada kalian, ‘Aku lelaki merdeka, akun bukan budak.’ Jika karena ini kalian ingin melepaskannya, lebih baik tidak usah kalian beli.”

“Tidak apa-apa. Kami tetap akan membeli budak itu,” timpal mereka.

Setelah membayar seharga sepuluh unta, orang-orang dusun beramai-ramai menghampiri dan memegangi tangan Suwaibith. Saat mereka memasangkan ‘imamah (ikat kepala dari tambang sebagai penanda budak) di kepalanya, Suwaibith berkata, “Orang itu (Nu’aiman) telah memperolok kalian. Sungguh, aku lelaki merdeka, bukan budak.”

(Mantan) majikanmu telah mengabari kami tentang kebiasaanmu ini. Termasuk adatmu yang banyak bicara,” ujar orang-orang dusun sambil terus membawa pergi Suwaibith tanpa mempedulikan ucapannya.

Saat Abu Bakar datang, Nu’aiman menceritakan apa yang baru saja ia lakukan terhadap Suwaibith. Abu Bakar berkata, “Susul mereka, dan kembalikan harga yang telah mereka bayarkan kepadamu. Ambil kembali Suwaibith!”.

Setelah itu, Abu Bakar menghadap Rasulullah saw. dan mengabarkan peristiwa tersebut. Begitu mendengarnya, Rasulullah pun tertawa bersama para sahabat lainnya. (Disarikan dari buku Canda Nabi dan Tawa Sufi)

Be the first to comment on "Nu’aiman ‘Menjual’ Temannya Sendiri"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*