Olahraga Indonesia Yang Tidak Pernah Belajar dari Pengalaman

Olahraga Indonesia yang Tidak Pernah Belajar

Salam olahraga usmiler 🙂 . Judul kali ini bukan berarti menghakimi, subjektif, dan tidak cinta tanah air, namun sedikit mengkritisi satu sisi yang tidak akan pernah ada habis-habisnya dalam kancah olahraga di tanah air Indonesia, fakta bahwa Olahraga Indonesia Yang Tidak Pernah Belajar dari Pengalaman. Ambil salah satu contoh saja, setelah sekian lama kita berjaya pada cabang badminton, tidakkah usmiler menyaksikan sekarang bagaimana negara seperti Malaysia, Thailand, Taiwan, Denmark, India, bahkan Jerman !!! (yang notabene ‘lebih terkenal’ dengan sepakbola-nya) bisa bersaing di peringkat dunia badminton versi BWF (bisa dilihat disini : Ranking BWF). Dalam peringkat terakhir, posisi Indonesia selalu terseok-seok di luar 10 besar.

Persiapan untuk Asian Games 2018 juga mengkhawatirkan.

Ketersediaan anggaran dan penyediaan arena masih menjadi persiapan krusial bagi Indonesia selaku tuan rumah Asian Games 2018. Sejauh ini, kebutuhan dana untuk penyelenggaraan Asian Games 2018 diprediksi mencapai Rp. 8,7 triliun. Sebagian besar kebutuhan dana itu dipenuhi dari APBN yang dialokasikan secara bertahap mulai 2016 hingga 2018.

Untuk memenuhi kebutuhan persiapan pada 2017, dibutuhkan dana Rp. 2.3 triliun. Namun, pemerintah baru mengalokasikan Rp. 500 miliar. Dengan  demikian, masih ada kekurangan Rp. 1, 8 triliun yang perlu segera dipenuhi pemerintah. Sementara meski sudah dianggarkan pada APBN 2017, dana Rp. 500 miliar itu juga belum bisa digunakan Panitia Penyelenggara Indonesia untuk Asian Games (Inasgoc).

Masalah Arena

Selain persoalan pendanaan, penyediaan arena belum menunjukkan progres yang meyakinkan. Pantauan Kompas ( http://www.kompas.com/ ), Jum’at (3/3), menunjukkan, sejumlah arena Asian Games 2018 di Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang, belum dikerjakan sama sekali. Sementara kondisi arena yang ada memprihatinkan.

Olahraga Indonesia Yang Tidak Pernah Belajar dari PengalamanGedung Senam Ranau, yang menurut rencana menjadi tempat pertandingan sepakbola takraw, tidak terawat. Banyak retakan di dinding arena. Tampilan luar gedung tampak lusuh dengan lumut di berbagai sudut serta kaca-kaca jendela pecah. Kondisi lapangan tenis juga cukup memprihatinkan lantaran perbaikan yang tak kunjung dilakukan. Bangku penonton tidak terawat dan banyak lubang. Cat lapangan lusuh, tembok di sekitar lapangan juga tampak kusam oleh lumut. Padahal, 3 Agustus 2016, delegasi teknis yang ditunjuk OCA dan PB Pelti mengunjungi arena ini. Mereka sudah meminta perbaikan sejumlah aspek yang belum sesuai standar.

OCA menetapkan lapangan tenis berjumlah 16 lapangan, sementara kompleks Jakabaring baru memiliki Sembilan lapangan. Untuk fasilitas penunjang banyak hal yang perlu dibangun dan dikembangkan, seperti ruang kesehatan atlet, ruang pemeriksaan doping, ruang wasit, ruang atlet, dan ruang media.

Sejumlah arena yang mulai dibenahi seperti lapangan tembak (shooting range), arena dayung, pelebaran danau buatan, dan pengerjaan arena boling. Namun, masih ada arena yang sama sekali belum dikerjakan, seperti arena voli pantai dan arena panjat tebing.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Sumatera Selatan Akhmad Najib mengatakan, sampai saat ini baru arena dayung, pelebaran danau, dan lapangan tembak yang tengah dikerjakan. Adapun arena lain dikerjakan Maret hingga Juni mendatang.

Semetara itu, meski pada rapat kabinet terbatas Kamis (2/3) diputuskan lokasi baru untuk Sembilan arena Asian Games 2018, realisasinya tetap membutuhkan persetujuan rapat koordinasi komite bersama OCA.

“Di setiap lokasi harus dilihat sarana dan prasarananya, di antaranya arena, akomodasi, rumah sakit, lapangan terbang atau Bandar udara. Ada banyak aspek yang dipertimbangkan. Kita akan membawa hasil itu ke rapat koordinasi panitia. Asian Games 2018, pada 5-6 Maret ini. Finalisasinya, ya, di rapat koordinasi itu,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi seusai memimpin rapat Konsolidasi Persiapan SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 di Jakarta, kemarin.

Lonceng Kematian

Dari penelusuran kompas.com , problem pendanaan dan penyiapan arena juga dialami Indonesia saat menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Bahkan, saat itu pembangunan Stadion Gelora Bung Karno terlambat 1,5 bulan karena terbakar pada 23 Oktober 1961. Kerusakan terparah pada atap menimbulkan keraguan pada kesiapan Indonesia.

Dalam buku Gelora Bung Karno, 2004, karya Julius Pour, disebutkan, keraguan itu salah satunya dilukiskan dalam berita Koran The Straits Times terbitan SIngapura. Berita berjudul “Lonceng Kematian Asian Games Akan Segera Berbunyi dari Jakarta” itu memicu pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk meyakinkan Federasi Asian Games (kini OCA) bahwa komitmen Negara ini tetap sama.

Persoalan 55 tahun lalu kembali muncul menjelang penyelenggaraan ajang olahraga Asian Games 2018.

Pengamat olahraga Sumohadi Marsis menilai, Indonesia tidak belajar dari pengalaman di masa lalu sehingga terbiasa dengan proses penyelesaian pada menit-menit terakhir. “Kita selalu kembali ke titik nol, mulai lagi dari proses pembelajaran baru sehingga prosesnya lambat,” katanya.

Selain persiapan fisik penyelenggaraan, Sumohadi juga mengkhawatirkan kesiapan atlet dalam meraih prestasi terbaik. Dengan adanya renovasi arena yang belum juga selesai, latihan atlet menjadi tidak maksimal. “Saya betul-betul khawatir, kita bisa menggelar Asian Games, tetapi ala kadarnya, prestasinya pun ala kadarnya,” katanya.

Problem pelik persiapan Asian Games masih ditambah dengan kasus dugaan korupsi dana sosialisasi yang melibatkan tersangka Sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Dodi Iswandi, Bendahara KOI Anjas Rivai, dan Direktur PT. HPGI Ikhwan Agus Salim sebagai pemenang tender sosialisasi di Surabaya.

Kepala Subdit Korupsi DItreskrimsus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ferdy Irawan mengatakan, berkas perkara kasus dugaan korupsi dana sosialisasi Asian Games di Surabaya telah dilimpahkan ke kejaksaan pekan lalu.

Referensi :
-Kompas.com
-litbang

Be the first to comment on "Olahraga Indonesia Yang Tidak Pernah Belajar dari Pengalaman"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*