Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 1

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 1

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 1

Di sebuah gedung yang terletak di jantung wilayah kerajaan Inggris, sekitar 32 kilometer dari kota Birmingham, waktu itu bulan Februari tahun 1998, seorang anak kecil asal Persia (Iran) berusia 7 tahun menjalani ujian doktoral. Sebuah peristiwa yang tidak hanya disebut-sebut sebagai mukjizat abad ke-20 pada masa itu, namun menjadi sebuah hikmah dan bahan pembelajaran bagi kita para orang tua untuk mencetak generasi yang Qur’ani.

Ujian yang berdurasi 210 menit, dilaluinya meliputi bidang: menghafal Al-Qur’an dan menerjemahkannya kedalam bahasa ibu, menerangkan topik ayat-ayat Al-Qur’an, menafsirkan, dan menerangkan ayat Al-Qur’an dengan menggunakan ayat Al-Qur’an yang lainnya. Luar biasa !!!. Ya, seorang Sayyid Husein Tabataba’I yang masih berusia 7 tahun, meskipun telah dikenal di negara asalnya sejak Usia 5 Tahun dan secara sikap tidak berbeda dengan anak-anak kecil pada umumnya, yakni bermain-main dihalaman gedung, dan bermain mobil-mobilan di sela-sela istirahat. Tetap terselip kisah-kisah yang mengandung hikmah dan tawa dari seorang anak kecil yang ‘dengan polosnya’, bermata bundar dengan bulu mata lentik memegang dahi seorang penguji Al-Qur’an yang mengeluhkan kepalanya pusing, untuk kemudian membacakan doa, lalu Husein kembali bermain.

Husein memperoleh nilai 93 dari tim penguji, dimana menurut standar Hijaz College Islamic University, nilai 60-70 akan diberi sertifikat diploma, 70-80 sarjana kehormatan, 80-90 magister kehormatan, dan doctor kehormatan (Honoris Causa) untuk nilai diatas 90. Sebuah gelar “Science of The Retention of The Holy Qur’an”.


Kisah dan Hikmah

Disamping kisah kepolosannya kepada tim penguji, lelaki cilik yang bernama lengkap Sayyid Muhammad Husein Tabataba’I itu telah melalui berbagai event di tanah Inggris sebelum ia menerima gelar Honoris Causa. Salah satunya pada pertemuan didepan 13.000 muslim Inggris di event situs BBC online, London. Husein sebenarnya telah terbiasa melalui acara pertemuan-pertemuan seperti ini sejak ia berusia 5 tahun dan menjawab berbagai tes seperti;

1. Menyebutkan letak dari potongan ayat Al-Qur’an, dibaris keberapa dan posisinya.
2. Menyebutkan arti/ makna dari sebuah ayat.
3. Penguji atau hadirin menanyakan hal-hal sederhana tentang kehidupan sehari-hari Husein dan peserta lainnya (Namun dengan luarbiasanya ia menjawab setiap pertanyaan sederhana tentang kehidupan sehari-hari dengan ayah-ibu dan saudara/I nya dengan ayat-ayat yang ber-korelasi dengan hal tersebut)

Satu kesempatan, Husein ditanya dengan beberapa pertanyaan dan mengalami berbagai pengalaman berikut:

  • Seorang hadirin bertanya: “Husein, engkau memiliki berapa orang Paman ?”, Husein menjawab dengan menggunakan 2 ayat Al-Qur’an (Q.S. 79 – An-Nazi’at : 15 ), “Sudah sampaikah kepadamu kisah Musa” dan (Q.S. 48 – Al-Fath : 29), “Muhammad itu utusan Allah”. Yang dimaksud dari jawaban tersebut adalah Husein memiliki 2 paman, 1 bernama Musa dan 1 lagi bernama Muhammad.
  • Dengan ‘pembawaan’ innocent dari seorang anak berusia 7 tahun, Husein pernah menjelaskan beberapa hukum Islam, misalnya tentang kewajiban Sholat. Tangan kecilnya turut digerakkan ke udara untuk memberikan penekanan pada kalimat-kalimat penting tertentu, dengan tata bahasa Persia yang cenderung sastrawi dan menggunakan rima.
  • Dalam sebuah Majelis Qur’ani, seorang bertanya tentang budaya Barat, “Bagaimana pendapatmua tentang budaya Barat?”, Kemudian Husein menjawab, “(Mereka) menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya.” (Q.S. 19 – Maryam : 59)
  • Dalam sebuah Majelis Qur’ani, seorang bertanya tentang Khomeini terhadap Iran, “Husein, apa yang dilakukan Khomeini terhadap Iran?”, Kemudian Husein menjawab, “(Dia) membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Q.S. 7 – Al-A’raf : 157). Yang dimaksudkan Husein, pada masa pemerintahan monarki, rakyat Iran terbelenggu dan tertindas, lalu Imam Khomeini memimpin revolusi untuk membebaskan mereka dari belenggu dan penindasan.
  • Bahkan sebuah pertanyaan pernah ditujukan untuk diri pribadinya sendiri, “Coba sebutkan ayat mengenai dirimu sendiri”, kemudian Husein menjawab, “Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat” (Q.S. 8 – Al-‘Anfal : 48) [sambungan ayat ini: “sesungguhnya aku takut kepada Allah”]; yang dimaksud Husein adalah: dia “melihat” Allah dan dia takut kepada-Nya.
  • Suatu ketika, selesai dari majelis Qur’an di Inggris Husein ditanya orang, “Apa tanggapan orang-orang di sana (Inggris)”, kemudian Husein menjawab, “Mereka tertawa.” (Q.S. 83 – Al-Muthaffifin : 34). Yang dimaksud Husein adalah orang-orang di Inggris yang menemuinya itu merasa senang dan gembira.
  • Dalam sebuah majelis Qur’an, hadir juga pengahafal cilik lainnya. Husein duduk bersama mereka diatas panggung dan menjawab pertanyaan dari hadirin. Abdussalam, seorang anak kecil berusia 4 tahun mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan, namun Husein yang mengetahui lebih cepat jawabannya spontan membuka mulut untuk menjawab. Namun ayah Husein menahannya. Kejadian ini terus berulang dan Husein merasa jengkel karena ayahnya sering menahannya menjawab. Husein lantas berkata, “Aku kan juga diundang dalam acara ini?”, hadirin pun tertawa mendengarnya.
  • Selesai acara majelis yang dihadiri Husein, ia berkata, “Sesungguhnya (apakah) kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?.” (Q.S. 7 – Al-A’raf : 113). Maksud Husein adalah apakah ia akan mendapat hadiah karena sudah menjawab seluruh pertanyaan dengan baik.
  • Saat bermain mobil-mobilan dengan saudara-saudaranya (dalam kondisi orang-orang disekitar memperhatikan Husein), Husein bergumam, “Mereka (duduk) diatas dipan-dipan sambil memandang.” (Q.S. 83 – Al-Muthaffifin : 23).
  • Husein pun menjelaskan ditengah keluarganya ia tidak diperlakukan istimewa. Saat seseorang bertanya, “Jika engkau berbuat kesalahan, apa sikap ayahmu?” Husein menjawab, “Barangsiapa yang mengerjakan keburukan, niscaya ia akan diberi pembalasan dengan setimpal.” (Q.S. 4 – An-Nisa : 123). Kemudian yang lain bertanya lagi pada Husein, “Apa perbedaan antara engkau dengan saudara-saudaramu?”, Husein menjawab, “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka.” (Q.S. 2 – Al-Baqoroh : 136)
  • Yang unik, saat Husein kecil bertengkar dengan saudara-saudaranya pun ia mengucapkan ayat Al-Qur’an. Saat saudaranya berusaha memukulnya, Husein berkata, “selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (Q.S. 66 – At-Tahrim : 11). Kejadian tersebut sempat terulang ketika Husein hendak melarikan diri dari kejaran saudarinya, lalu saudarinya terjatuh ke-lantai. Husein berkata, “Wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang.” (Q.S. 12 – Yusuf : 25)
  • Husein pun mengerti soal hijab. Saat dia dan keluarganya diundang makan malam oleh sebuah keluarga, sesuai kebiasaan untuk ruang pertemuan selalu dipisah antara laki-laki dan perempuan. Suatu kesempatan Husein yang bosan duduk diruangan keluar dan melihat-lihat ruangan dirumah itu. Tuan rumah mempersilakan Husein masuk ke ruang ibu & perempuan, namun ia kembali dan pergi keluar sambil berkata, “Katakan kepada para perempuan itu agar menjaga hijab mereka.” Karena beberapa diantara mereka ada yang tidak berhijab.
  • Suatu hari, adik Husein, Baqir menyeletuk, “Aku ingin menjadi pemimpin para ‘ulama”. Tak lama kemudian, Baqir menyelonjorkan kakinya dan tanpa sengaja menendang piring buah. Husein menegur, “Kalau kamu ingin menjadi ‘ulama. Kenapa engkau tendang piring ini?.”. Lantas ayah Husein bertanya kepada Husein, “Kamu kan sudah belajar fiqih sedikit. Nah, apa hukumnya menendang piring?.” Husein menjawab. “Tidak ada hukumnya, dia (Baqir) khan belum baligh.”
  • Suatu saat di sebuah acara pertemuan, seorang ibu dari Suriah hendak menciumnya karena gemas. “Jangan pegang aku.” kata Husein. Namun si Ibu tetap mendekati Husein dan menciumnya sambil berkata, “Tidak apa-apa, kamu khan belum baligh, tidak apa-apa bila dicium perempuan yang bukan muhrim.” Namun Husein berkata dengan polosnya, “Saya belum baligh, tapi dia kan sudah.”
  • Husein berkali-kali pernah ditanya mana yang lebih ia sayangi, ibu atau ayahnya. Sambil melirik ayahnya, Husein berkata, “Tidak masuk kepada golongan itu dan tidak kepada golongan itu.” (Q.S. 4 – An-Nisa : 143). Maksudnya tidak condong kepada ayahnya, dan tidak pula kepada ibunya. Namun Husein menambahkan, “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun.” (Q.S. 31 – Luqman : 14). Maksud Husein, dia lebih menyayangi ibunya.

Sebenarnya masih banyak kisah dan dialog yang dialami Husein dan bukan satu-satunya anak yang mampu menghafal Al-Qur’an semasa balita. Namun, keistimewaan utama yang dimiliki Husein adalah kemampuannya memahami makna ayat-ayat itu dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Dia bahkan mampu memilih ayat yang tepat untuk menganalisis sebuah masalah.

Kisah dari Husein ini mengingatkan kita kepada Habibie kecil, dimana sikap dan sifatnya yang terlihat berbeda namun memiliki jalan keunikan tersendiri untuk dilihat hikmahnya di masa yang akan datang. Habibie (Baharuddin Jusuf Habibie). Pendidikan dari sang Ayah yang mirip Imam An-Nawawi, dimana habibie kecil bahkan sempat ‘dipaksa’ ayahnya untuk bermain dan berbaur dengan teman sebayanya namun kembali dari luar dan masuk kerumah lewat pintu belakang – karena ia cenderung tidak suka bermain-main dan menghabiskan waktu.

Husein, yang seperti kebanyakan anak kecil se-usianya asyik bermain mobil-mobilan, namun akan berubah 180 derajat untuk khusyuk mendengarkan dan mengikuti pelajaran, dia sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya. Meskipun mobil-mobilan Husein ditabrak dengan keras oleh mobil-mobilan adiknya, atau bahunya digoyang-goyang oleh kerabatnya, Husein sama sekali tidak memberikan reaksi apapun dan tetap fokus konsentrasi belajar. Suatu kali, Husein kecil sedang berada diluar kota dan ditelpon saudaranya Ashgar Judai yang melepas rindu. Setelah beberapa menit bercakap-cakap Husein kecil berkata, “Maaf, saya punya pelajaran, saya harus menelaah (pelajaran itu).”

Sungguh kisah yang unik. Lantas, bagaimana perilaku Husein kecil bisa seperti itu dan bagaimana cara kedua orang tua Husein mendidiknya hingga terbentuk jiwa yang menyatu dengan Al-Qur’an??

Simak kisah selanjutnya pada tulisan berikut ...

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 2

Leave a comment

Your email address will not be published.


*