Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 2

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 2

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 2

Tumbuh Besar di Tengah Lantunan Al-Qur’an

Saat itu Sayyid Muhammad Husein Tabataba’I terlahir ke dunia pada tanggal 16 Februari 1991 di Kota Qom, 135 Kilometer dari Teheran, ibu kota Iran. Husein adalah anak ketiga dari 6 bersaudara. Orang tua Husein menikah ketika mereka masing-masing berusia 17 tahun dan setelah menikah keduanya bersama-sama berusaha menghafal Al-Qur’an. Tekad itu akhirnya tercapai 6 tahun kemudian, ketika mereka berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an. Dalam prosesnya, kedua orang tua Husein membentuk kelompok khusus penghafal Al-Qur’an dan mendirikan kelas-kelas Al-Qur’an yang teratur dan terprogram. Seiring dengan kegiatan itulah Husein kecil dan saudara-saudarinya tumbuh besar. Meskipun di kelas tersebut Husein hanya duduk mendengarkan, namun ternyata ia menyerap isi pelajaran (Ingat kisah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I ?? – Redaksi – Hary). Di usia 2 tahun 4 bulan, Husein sudah menghafal juz ke-30 (Juz’amma) secara otodidak.

Melihat potensi mengingat dan daya tangkap dari Husein, sang ayah secara serius mengajarkan juz ke-29 dengan metode memberikan hadiah sebagai pembangkit semangat. Seperti jika berhasil menghafal surah tertentu, ayah Husein akan memberikan hadiah. Setelah selesai juz ke-29, sang ayah mulai mengajari juz pertama kepada Husein.

Awalnya, ayah Husein mengajari dengan cara seperti biasa, yaitu membacakan ayat-ayat yang harus dihafal, setengah halaman dalam sehari dan setiap pekan. Namun ayah Husein menyadari metode konvensional tersebut memiliki 2 persoalan, pertama: ketidakmampuan Husein kecil untuk membaca Al-Qur’an, membuatnya sangat tergantung pada ayahnya dalam mengulang-ulang ayat tersebut. Kedua: metode seperti itu sangat ‘kering’ dan tidak cocok bagi psikologis anak usia balita. Selain itu Husein sangat kesulitan memahami makna dari ayat Al-Qur’an yang kebanyakan terdapat konsep-konsep yang abstrak.

Sebagai solusi pertama, Husein pun diajari cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan bukan sekedar menghafal. Ayah Husein menciptakan metode sendiri yakni dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya, kata Allah, tangan menunjuk ke atas, kata yuhibbu (mencintai), tangan seperti memeluk sesuatu, kata sulh (berdamai), dua tangan saling berpegangan. Selanjutnya ayah Husein akan menceritakan makna dari suatu ayat dengan bahasa sederhana yang paling mudah dimengerti. Metode seperti ini semakin hari semakin menarik perhatian Husein kecil, ia semakin lancar memahami makna dari ayat dengan isyarat. Metode ini semakin berpengaruh bagi Husein dan menjadi pioneer masa sekarang ini guna mengajarkan ke putra-putri kita guna membangun generasi yang Qur’ani.

Penuturan Ayahanda Husein

Manurut ayah Husein, kedisiplinan adalah sifat utama anaknya. Husein secara teratur mengulang-ulang hafalannya. Bahkan setelah Husein kecil berhasil menghafal ayat demi ayat hingga seluruh Al-Qur’an, dia secara teratur membaca 1 halaman buku tafsir Al-Qur’an setiap harinya. Bahkan ayahanda Husein berkata, “Kami belajar kedisiplinan dari Husein.”

Sebelum kelahiran Husein, ayah dan ibu Husein bertekad menghafal Al-Qur’an bersama-sama. Selama hamil dan menyusui, ibunya dalam sehari membaca minimal 1 Juz Al-Qur’an. “Para ahli psikologis juga mengatakan bahwa jika pada masa kehamilan ibu memperdengarkan musik atau membacakan buku, akan mmberikan pengaruh positif bagi anak.”. Tentu saja, membacakan Al-Qur’an kepada bayi pasti akan memberikan pengaruh positif yang lebih besar lagi. Mengingat Al-Qur’an adalah kalam Ilahi dan petunjuk hidup yang paling sempurna.

Ayahanda Husein mengenang, suatu saat beberapa dokter datang kerumah untuk menemui Husein. Mereka mengatakan, menurut teori bayi dalam perut ibu sejak 5 bulan sudah bisa mendengarkan suara ibu. Karena itu jika ibu dalam masa menyusui secara teratur membacakan hal-hal khusus kepada anak, misalnya Al-Qur’an, maka ketika anak itu mencapai usia belajar, dia akan mampu mempelajari hal-hal yang didengarnya di waktu janin/ bayi itu beberapa kali lebih cepat daripada anak lainnya. Ketika ayah Husein ditanya apakah Husein anak yang istimewa, ia menjawab, “Menurut saya Husein tidaklah istimewa. Kemampuannya memang diatas rata-rata. Setiap anak bisa saja di didik untuk memiliki kemampuan seperti Husein. Namun, tentu saja pra-kondisi dan kondisinya haruslah lengkap. Mungkin banyak anak-anak lain yang sebenarnya memiliki kemampuan seperti Husein, namun ketiadaan guru yang baik, potensinya terabaikan begitu saja.

Bila orang tua menginginkan anaknya menjadi pecinta Al-Qur’an dan lebih lagi, menghafal Al-Qur’an, langkah pertama yang harus dilakukan adalah, si orang tua harus terlebih dahulu juga mencintai Al-Qur’an dan rajin membaca Al-Qur’an di rumah. Husein sejak matanya bisa menatap dunia, telah melihat Al-Qur’an, mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an, dan akhirnya menjadi akrab dengan Al-Qur’an.

Penuturan Ibunda Husein

Seperti pada ibu-ibu pada umumnya, selama kehamilan, ibunda Husein selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh dan pintar. Ketika Husein lahir, ia selalu berwhudhu’ dulu sebelum menyusui. Ia juga sangat rajin pergi ke masjid dan membaca Al-Qur’an. Pendidikan anak harus dilakukan jauh sebelum anak lahir, dengan cara mencari pasangan yang berasal dari keturunan yang baik. Akar dari kebahagiaan atau kesengsaraan seorang anak berawal dari kondisi ibunya. Perilaku-perilaku yang tidak Islami akan mengeraskan hati kita.

Simak kisah selanjutnya pada tulisan berikut ...

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 3

Leave a comment

Your email address will not be published.


*