Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 3

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 3

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 3

Terhitung sampai dengan tahun 2018, berarti Husein telah memasuki usia yang ke 27. Namun ada beberapa percakapan menarik saat ia masih menuntut ilmu agama di hazwah (semacam institute agama islam negeri) pada usia 16 tahun. Berikut percakapannya dengan Kayhan (seorang reporter harian terkemuka di Iran) dengan Husein:

Kayhan (K): Di mana engkau saat ini ?

Husein (H): Saya tidak kemana-mana, saya disini, sibuk dengan pelajaran saya.

K : Sekarang, jika orang melihatmu dijalan, apa mereka mengenalmu?

H : Tidak, karena yang mereka ingat adalah wajah saya ketika berusia 5-6 tahun. Menurut saya, begini lebih baik. Ada yang bilang “dalam ketidak terkenalan ada kenyamanan.”

K : Sekarang, apa yang sedang engkau pelajari?

H : Saya tidak membatasi diri saya pada pelajaran tertentu, namun saya lebih tertarik mempelajari buku-buku tentang akhlak dan agama.

K : Mengapa engkau tidak muncul lagi di televisi?

H : Sejak beberapa waktu lalu, program pelajaran saya semakin padat dan saya sedikit sekali mempunyai waktu untuk kegiatan lain.

K : Selama ini apakah engkau juga pernah mengajar?

H : Ya, saya pernah menjadi pengajar juga.

K : Metode penghafalan Al-Qur’an yang muncul saat engkau kecil dulu  (metode isyarat), apakah saat ini cukup berkembang di masyarakat?

H : Prinsip menghafal Al-Qur’an sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak ada perubahan, yaitu dengan membaca dan mengulang, dengan mendengar, atau dengan menulis. Namun metode atau cara mengajarkan di kelas, akan terus mengalami perkembangan. Metode baru ini (metode isyarat) Alhamdulillah sangat efektif. Dengan penuh penghormatan kepada metode lama, saya menyambut segala bentuk metode baru.

K : Sebagian orang meyakini bahwa engkau dimasa kecil tertekan karena pada saat engkau seharusnya menikmati masa kecil malah diharuskan mempelajari Al-Qur’an.

H : Ya, banyak yang mengira demikian, namun sama sekali tidak benar. Saya cukup menikmati masa kecil saya. Saya masih ingat, dalam sebuah majelis Qur’ani yang dihadiri kaum perempuan, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sambil bermain mobil-mobilan. Pada usia 8 tahun, saya dan teman-teman (mereka jumlahnya 50 orang) pergi kemping. Pagi-pagi, setelah sholat shubuh, mereka semua tidur dan saya mencoreng muka mereka dengan arang. Ke-50 teman saya itu tidak tahu sampai sekarang, siapa yang membuat wajah mereka hitam (tersenyum).

K : Selama ini mengapai engkau terlihat menjauh dari masyarakat?

H : Saya tidak tahu apa yang anda maksudkan dengan ‘menjauh’. Saya selalu berada di tengah masyarakat dan sering hadir dalam berbagai acara Qur’ani di berbagai kota.

K : Apa definisi Al-Qur’an bagi seorang remaja?

H : Saya pikir, pandangan seorang remaja terhadap Al-Qur’an haruslah seperti pandangannya terhadap minyak wangi. Ketika kita keluar rumah, tentu kita selalu ingin wangi dan menggunakan minyak wangi. Kita juga harus berusaha mengharumkan jiwa dengan membaca dan menghayati Al-Qur’an. Seorang remaja harus menyimpan Al-Qur’an di dadanya supaya sedikit demi sedikit perilaku dan pembicaraannya dipengaruhi oleh Al-Qur’an.

K : Menurutmu, untuk mencapai hal seperti ini (pengenalan yang baik terhadap Al-Qur’an dikalangan remaja), apa yang sudah dilakukan (pemerintah/ masyarakat)?

H : Menurut saya, hingga kini belum dilakukan langkah yang mendasar terkait dengan Al-Qur’an, hanya terfokus pada kegiatan-kegiatan klise. Saya tidak mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah dilakukan tidak baik, namun tidak cukup. Selama Al-Qur’an tidak menjadi prioritas utama pemerintah dan masyarakat, Al-Qur’an tidak akan bersemayam di hati para remaja. Kita berkewajiban menggunakan segala fasilitas untuk memperkenalkan hakikat Al-Qur’an dan penerapannya dalam kehidupan kepada masyarakat. Di antara fasilitas yang sengat berpengaruh adalah melalui film dan televisi. Namun, hal ini jangan dilakukan hanya terbatas pada bulan Romadhon saja. Salah satu tanda akhir zaman adalah orang-orang tidak lagi beribadah kepada Allah selain di bulan Romadhon.

K : Bukankah kita sudah memiliki stasiun radio Qur’ani dan satu channel khusus Al-Qur’an?

H : Ya, saya pikir, salah satu berkah dari pemerintahan islam adalah berdirinya radio dan televisi Qur’ani ini. Namun, tidak berarti channel-channel televisi dan stasiun radio yang lain tidak punya kewajiban dalam memasyaratkan Al-Qur’an, terutama channel 3 yang dikhusukan untuk para pemuda.

K : Bagaimana dengan internet ?

H : Internet memiliki sebuah “bahasa bersama” di dunia, karenanya, internet merupakan sebuah jembatan komunikasi yang tepat untuk menyebarluaskan pemahaman agama. Kita juga harus memanfaatkan fasilitas yang sangat kuat ini dengan semaksimal mungkin.

K : Bagaimana kalau saya mengajukan pertanyaan satu kata?

H : Silahkan

K : Sedih?

H : Orang yang selalu bersama Al-Qur’an tidak akan pernah merasa sedih

K : Hawa nafsu?

H : Kita harus berhati-hati menghadapinya, terutama nafsu amarah.

K : Kematian

H : Jembatan yang akan mengantarkan manusia baik ke surga

K : Dosa?

H : Api yang kalau pun hanya didekati saja, panasnya sudah sangat terasa

K : Pencerahan agama?

H : Kebangkitan

K : RAM 512?

H : Salah satu bagian dari hardware komputer

K : Saya tidak sangka engkau mengetahuinya

H : Oya?!

K : Internet?

H : Fasilitas terbaik untuk menyebarluaskan Islam

K : Menunggu?

H : Kerja dan aktivitas

K : Syahid

H : Lilin

K : Cinta?

H : Hati seorang mukmin

K : Energi nuklir?

H : Hak semua bangsa

K : Olahraga ?

H : Perlu bagi semua orang

K : Menonton sepakbola atau bermain?

H : Keduanya, saya menonton dan bermain sepakbola

K : Parameter kehidupan

H : Rasulullah SAW

K : Musik

H : Saya mendengarkannya (sambil tertawa), tentu saja musik yang terkait dengan Al-Qur’an.

K : Syair (puisi)?

H : Saya membacanya, tapi tidak terlalu

K : Gulestan-e Sa’di (buku syair karya penyair sufi Iran, Sa’di Shirazi)?

H : Kitab ketiga yang saya hafal (Kitab pertama: Al-Qur’an)

K : Buku terakhir yang dibaca?

H : Akhlak dalam Al-Qur’an, karya Ayatullah Makarim Shirazi

K : Apa perbedaan antara Sayyid Muhammad Husein 10 tahun lalu dengan hari ini?

H : Semakin banyak saya membaca dan semakin jauh saya berjalan, saya semakin menemukan bahwa saya semakin “miskin” dan semakin “membutuhkan”

K : Allah tidak akan membebani seseorang selain sesuai kemampuannya.” (Q.S. 2 – Al-Baqoroh:286)

H : Menurut saya, untuk mencapai tujuan dan kemajuan, kita harus memandang bahwa kewajiban kita lebih besar daripada kemampuan yang kita miliki.

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 2

Heboh Usia 5 Tahun jadi Doktor dan Hafal Al-Qur’an – Bagian 1

Referensi :

Sulaeman, Dina Y. (2007). “Doktor Cilik Hafal & Paham Al-Qur’an”. Depok: Pustaka IIMaN.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*